Awal atau Akhir?

Kiranya sudah hampir satu tahun lebih aku tak berkunjung ke situs catatan harian elektronikku yang satu ini. Alasannya mungkin karena sibuk? Yak. Sibuk dengan media sosial yang lebih ngetrend lainnya seperti instagram, snapchat, LINE, dan sumber hiburan maa kini, YouTube. Oh iya, sampai lupa. Sibuk sama penelitian dan skripsi. Terakhir ku curahkan isi hati dan pikiranku disini adalah mengenai pengalamanku saat KKP di Natuna setahun yang lalu.

Well, time flies. Baru saja dua hari yang lalu, tepatnya tanggal 11 Oktober 2016 aku melaksanakan sidang skripsi dan dinyatakan lulus. Senang? Iyalah, PASTI. Gimana nggak senang? Aku yang harusnya mundur satu semester karena exchange, ternyata bisa juga lulus cepat. Lulus cepat? Iya.

Jadi sebenarnya saat ku sidang, masih ada beberapa teman di KPM 49 yang belum lulus. Dan mereka itu harusnya bisa lebih dulu dari aku. Anyway, aku juga sangat bersyukur atas pencapaianku ini. Kalau dihitung-hitung, aku melaksanakan penelitian (termasuk nyusun proposal penelitian dan skripsi) kurang lebih 5 bulan saja. Yup. 5 Bulan. Dari Bulan Mei sampai Oktober.

Question : KOK BISA CEPET SIH TY??

Answer : Hmm.. Gimana jawabnya ya? Ya, mungkin karena aku sudah memiliki target sejak awal. Jadi aku itu sudah mempersiapkan sebisa mungkin rencana-rencanaku kedepannya. Termasuk target lulus. Aku sudah menyiapkan penelitian sejak masih Studi Pustaka (SP). Diawal, aku sudah menyiapkan topik penelitianku,yang jatuh pada Modal Sosial. Kemudian aku menentukan siapa yang mampu membimbingku untuk menyelesaikan penelitian ini. Aku pun memilih Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS untuk menjadi pembimbing skripsiku. Kenapa beliau? Alasannya adalah karena beliau lah satu-satunya dosen yang kalau menjelaskan kuliah aku bisa paham. Simpel. Setelah dibimbing beliau, aku pun bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu kolokium. Alhamdulillah aku termasuk golongan awal yang melakukan kolokium di kala itu. (Jdi singkat cerita, aku itu jadi barengan sama anak aksel KPM 50.) Saat itu aku kolokium pada Hari Senin, 27 Juni 2016. Kemudian aku mulai penelitian tanggal 1 Agustus 2016 dan melanjutkan mengolah data dan menulis skripsi. Sebenarnya aku bukanlah anak yang rajin. Tapi aku memiliki tekad dan semangat yang menggebu-gebu untuk menyelesaikn skripsi. Alasannya? Karena aku nggak mau lama-lama belajar dan menghadapi dunia pembelajaran yang isinya teori dan segala idealismenya. Terus melihat banyak teman-teman KPM 49 yang belum sidang membuatku semakin bersemangat untuk menyaingi mereka. hehehee. Maaf ya. Dibimbing oleh Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS membuatku merasa menjadi mahasiswa paling beruntung. Selain baik, beliau sangat mendukungku untuk segera menuntaskan skripsi dan sidang. Tak perlu banyak waktu, ku hany melkukan revisi sekali dengan Bapak dan langsung di acc untuk sidang. Awalnya aku berencana unuk sidang pada 1o Oktober 2016. Tapi karena belum dapat acc dari dosen penguji utama (dosen penguji akademik sudah acc), beum bisa sidang. Alhasil aku pu melakukan sesi curhat dengan Bapak pada tanggal 10 karena belum di acc. Bapakku (Pak Tonny) pun heran mengapa demikian, karena untuk segi substansi sudah bagus. Namun karena dua dosen telah acc untuk sidang (dosbig dan dosen penguji akademik), maka Bapak menyuruhku untuk daftar sidang untuk besoknya dan membantuku meng-sms penguji utama agar bisa sidang. Dosen penguji utamaku akhirnya bersedia dan aku pun sidang pada Hari Selasa, 11 Oktober 2016.

Question : Gimana rasanya pas sidang? Deg-degan nggak? Nggak takut karena ngelangkahin dosen penguji utama?

Answer : Awalnya takut banget. Takut dibantai sama penguji utama. Tapi kata Bapak, nggak usah takut. Karena yang tau kondisi lapang kan aku. JAdi percaya diri aja, InsyaAllah bisa. Aku sih banyak-banyak berdoa pas mau sidang. Aku juga tanya anak bimbingannya penguji utamaku. Alhamdulillah pas sidang aku nggak degdegan sama sekali. Dan Alhamdulillah dosen-dosennya semua baik. Alhamdulillah juga dinyatakan LULUS.

Aku sangat bersyukur dengan pencapaianku. Aku juga bersyukur, meskipun sahabat-sahabatku (Eva, Pinola, Vishy, Sinta) nggak ada yang datang, tapi teman-teman tersayang dan terkasih yang lain pada datang. (nggak usah disebutin satu-satu lah ya). Tapi yang jelas memang ada yang spesial waktu itu.

Aku berterimakasih kepada semua orang, baik itu yang datang maupun tidak. Karena semua juga berkat dukungan dan doa kalian.

Selesai sidang aku sangat amat bahagia. Tapi sehari setelahnya, aku merasa sedih. Inikah akhir dari semua? Karena setelah ini akan sangat sulit bertemu dengan teman-teman. Akan sangat sulit karena tidak ada alasan untuk bertemu. Akan sangat sulit karena setelah ini aku akan menghadapi dunia yang sebenarnya. Dan aku sangat sedih ketika tidak bisa lagi bertemu dengan orang-orang yang kusayang. Semua akan sibuk pada dunia nya masing-masing.

“Ini bukanlah akhir, melainkan awal untuk memulai yang baru.” (Nasdian, 2016)

Oh iya, let me post some photos pas aku sidang..

 

Advertisements

Serba-Serbi Pulau Subi, Natuna : Serunya KKN-P di Pulau Terluar Indonesia

kkn

Natuna merupakan daerah terluar dari NKRI yang masuk kedalam Kepulauan Riau. Natuna memiliki banyak potensi yang terdapat didlamn, baik itu poteni minyak, perikanan, perkebunan maupun pertanian. Natuna juga memiliki ratusan pulau-pulau diujung perbatasan Indonesia dengan negara-negara lain. Namun meskipun memiliki banyak potensi, Natuna masih kurang memanfaatkannya secra maksimal sehingga dibutuhkan pemanfaatan yang baik oleh beberapa pihak.

Pada tahun ini Natuna kembali terpilih menjadi salah satu daerah yang dijadikan lokasi Kuliah Kerja Nyata – Berbasis Profesi (KKN – P) dari Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Di Natuna terdapat tiga desa yang dijadikan lokasi, yaitu Desa Arung Ayam, Desa Payak, Desa Terayak, Desa Subi Besar, Desa Pulau Panjang dan Desa Kerdau. Masing-masing dari kelompok beranggotakan enam orang dari departemen yang berbeda-beda. Saya, Tyagita Indahsari W, merupakan mahasiswa SKPM 49 merupakan salah satu mahasiswa yang terpilih untuk melksanakan KKN-P di Natuna, tepatnya di Desa Terayak, Kecamatan Subi, Pulau Subi Kecil, Kabupaten Natuna. Saya beserta kelima teman saya dari departemen yang berbeda-beda ini dapat menjangkau Pulau Subi dengan perjalanan “khusus” yang sangat panjang dengan rute Bogor-Jakarta, Jakarta-Pontianak, Pontianak –Pulau Serasan, Pulau Serasan-Pulau Subi.

Kami berangkat seminggu lebih awal dari jadwal keberangkatan sesungguhnya, yaitu pada tanggal 19 Juni 2015. Dari kampus kami  menggunakan bus menuju ke bandara. Setelah sampai di bandara kami langsung terbang ke Pontianak dan langsung dijemput oleh bis TNI-AL untuk menuju ke pelabuhan dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Subi menggunakan kapal sabuk selama kurang lebih 31 jam perjalanan. Sebelum mencapai Pulau Subi, kami berpindah dari kapal ke perahu motor atau yang biasa disebut “pompong” untuk mencapai daratan Subi. Hal ini karena tidak adanya pelabuhan besar untuk kapal sehingga mobilitas hanya dapat menggunakan pompong.

Selama kurang lebih dua bulan saya dan kelompok saya menjalani KKN-P disini. Di Pulau Subi ini kami mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga. Bahkan untuk pertamakalinya kami tinggal di rumah panggung yang sudah sekitar tiga tahun tak berpenghuni. Kelembagaan yang erat, kerjasama, kearifan lokal serta kepercayaan antar masyarakat dirasa masih sangt kental. Masyarakat di Pulau ini menjunjung tinggi asas kekeluargaan, sehingga tak heran apabila setiap warga desa pasti kenal dengan warga desa lainnya, bakan kenal dengan warga se-pulau.

Adapun kebiasaan unik yang terdapat di Pulau Subi ini, yaitu warga tidak pernah mencabut kunci motornya saat diparkir, baik itu di depan rumahnya sendiri, depan rumah orang lain, maupun di toko. Hal tersebut karena warga sudah percya satu sama lain sehingga apabila kunci mereka cabut, malah dinggap tidak percaya dan mencurigai warga lain. Selain itu warga juga tidak pernah mengunci pintu rumah mereka dan membiarkannya terbuka walaupun tidak ada orang. Hal ini tentunya sangat membuktikan betapa percayanya warga Subi antara satu dengan yang lain.

Berdasarkan hasil diskusi yang telah kelompok kami lakukan bersama warga Desa Terayak, kami menemukan berbagai potensi yang jika dikelola akan dapat mengembangkan desa ini seperti penyuluhan, ikan, pemandangan, perkebunan, buah, pertanian sayuran, pelayanan masyarakat dan tanaman pekarangan. Namun kami juga telah menemukan adanya beberapa masalah yang ada seperti kurangnya air bersih, listrik yang hanya 7 jam perhari, tidak adanya pemasaran yang bagus,  kurangnya  kualitas SDM, kurangnya minat masyarakat untuk bertani, masuknya kapal illegal, pendidikan, ekonomi rumah tangga, masalah alat tangkap dan kebersihan lingkungan. Untuk itu kami selaku mahasiswa KKN-P IPB mencoba menawarkan beberapa solusi melalui program-program yang telah kelompok kami bawa dari kampus. Setelah berdiskusi panjang dengan warga, kami menemukan akar permasalahan dari semuanya yaitu kurangnya minat masyarakat untuk mengelola kekayaan SDA yang ada. Contohnya adalah di Pulau Subi ini rata-rata lahan bersifat subur dan akan tumbuh jika ditanami tumbuhan. Masyarakat disini pun rata-rata memiliki tanah yang dapat mereka kelola. Namun sayangnya warga belum mau mengelola lahan trsebut karena berbagai alasan, seperti kurangnya air, banyak hama dan alasan yang paling “klasik” yaitu malas untuk merawatnya. Padahal apabila warga mau mengelola lahan tersebut dengan baik, mereka dapat memenuhi kebutuhan pangan berupa sayur dan buah secara mandiri tanpa harus beli dari luar pulau seperti Kalimantan.

Oleh karena masalah tersebut, kami pun memutuskan untuk mengajukan program-program yang bertujuan untuk memupuk generasi muda agar dapat berambisi untuk mengelola SDA yang sudah ada di Pulau Subi secara optimal. Sasaran program kami rata-rata kepada anak-anak sekolah, yaitu SD dan SMP. Karena pada masa-masa inilah mereka dapat mudah dibentuk dan diarahkan. Namun selain ke anak SD dan SMP, sasaran yang lain juga ada seperti Ibu-ibu dan Bapak-bapak.

Program-program kami antara lain adalah FGD, Penyemiaan Cabai Dan Bayam Merah, Revitalisasi Posyandu, Kreativitas Berbasis Lingkungan Hidup, Pola Hidup Bersih Dan Sehat, Edukasi Pertanian Anak SD, Gerakan Lansia Sehat, Gerakan Ibu Sehat, Pendampingan PAUD, Ayo Menanam, KTKA, Edukasi Reproduksi Pra-Nikah, Pendampingan Gizi Kurang, Coastal Clean Up, Sosialisasi Perikanan Dansosialisasi Keamanan Pangan. Program-program tersebut telah kami sesuaikan dengan apa yang dibutuhkan masyarakat melalui hasil diskusi bersama warga. Selama kurang lebih dua bulan kami menjalankan semua program tersebut dengan respon masyarakat yang cukup baik.

Di Pulau ini bukan hanya kelompok kami sendiri yang menjalankan KKN-P, tetapi juga ada kelompok lain yang mendapati tempat di Pulau Subi Besar. Jarak antara Subi Besar dengan Subi kecil tidak terlalu jauh dan mudah ditempuh hanya melewati jembatan yang melewati Selat Nasi. Sehinga tak heran apabila kelompok kami sering berkunjung satu sama lain dan memiliki kekerabatan yang dekat. Kami pun juga berusaha untuk mengenal warga dari desa-desa lain di luar Desa “Tugas” kami seperti Desa Subi Besar/Timur, Desa Subi dan Desa Meliah.

Pulau Subi juga memiliki potensi wisata yanng bagus. Kami selaku pendatang di Pulau Subi tentunya tak mau melewatkan lokasi-lokasi wisata yang ada. Adapun lokasi wisata di dalam pulau sendiri adalah Pantai Air Lingkung, Bukit Lampu, Pantai Arung Boyo, “embung”, sejenis kolam penampungan air, Batu Ampar, Pantai duyung, Pantai Bidadari, dan masih banyak lagi. Selain itu juga terdapat lokasi wisata di luar pulau seperti Pulau Tudan, yaitu pulau yang tak berpehuni dan banyak terdapat penyu sehingga sering disebut juga Pulau Penyu. Keindahan alam yang disajikan tidak main-main. Laut biru dengan berbagai keindahan bawah laut dibawahnya, langit biru dengan goresan awan yang mempesona, udara segar yang masih murni serta suasana alam yang mendukung membuat kami semua takjub akan kuasa Tuhan terhadap Pulau Terluar Indonesia ini.

Dua bulan merupakan waktu yang singkat bagi kami untuk hidup dan mendapatkan pengalaman disini. Tak terasa waktu kami telah dipenghujung akhir. Kami pun mendapat kabar untuk mengakhiri KKN-P dan segera kembali pulang pada tanggal 24 Agustus dari Pulau Serasan. Hal ini membuat kami harus berangkat meninggalkan Pulau Subi pada tanggal 23 Agustus di pagi hari. Rasanya tak sanggup untuk meninggalkan Pulau yang memiliki banyak kenangan ini. Di saat-saat terakhir kami berpamitan dengan warga, satu persatu anggota dari kelompok kami tak tahan untuk mengeluarkan air mata dan membanjiri setiap rumah yang ada, begitupun dengan warga. Rasanya sudah sangat dekat dengan Pulau Subi sehingga saat meninggalkan Pulau ini rasanya sedih sekali.

Pulau Subi, pulau yang memiliki banyak kekayaan alam dan kekayaan sumber daya manusia di dalamnya. Tidaklah diperlukan sesuatu yang “wah” untuk dapat mengembangkan potensi tersebut. Hanya dibutuhkan kemauan dan tekad yang kuat, Pulau ini akan berkembang dan membuat warganya hidup sejahtera. Kesederhanaan dan sifat tradisional yang masih kental membuat kami semua tahu dan dapat mempelajari pelajaran hidup yang sesungguhnya.

Pulau Subi, Natuna.

  • Tyagita Indahsari W. / SKPM 49-

Catatan Harian Minggu Ketujuh di Forsia

Jum’at 24 April 2015

Pukul 17.00 sampai 18.15

Pada magang kali ini saya menghadiri rapat divisi ukhwah yang dilaksanakan di kantin plasma. Dan pada rapat kali ini saya datang sedikit terlambat karena masih ada agenda lain (tahsin).

Pada rapat kali ini seperti biasa akan membahas berbagai macam hal. Kami membahas mengenai kegiatan danus untuk mendopang acara studi banding eksternal ke ITB. Namun sayangnya saat ini danus belum dapat dilaksanakan karena masih bingung untuk menjual apa. Hal ini karena kami melihat banyaknya persaingan dagang di masing-masing kelas. Akhirnya kami memutukan untuk berjualan snack atau makanan ringan (kue kiloan) karena dirasa cukup banyak peminatnya dan jika tidak laku hari ini dapat disimpan untuk esok hari.

Setelah itu ada pemberitahuan dari Dafhi mengenai absensi kehadiran masing-masing anggota saat rapat. Dafhi menjelaskan bahwa jika anggota sering tidak hadir tanpa alasan yang jelas maka akan diberikan surat peringatan. Saya prbadi setuju dengan hal ini walau agak sedikit “jahat” namun ini bagus demi kedisiplinan para anggota Forsia.

Kemudian kami membahas mengenai studi banding yang mengharuskan adanya perubahan pada proposal karena ada beberapa yang salah.

Selain itu ternyata kami juga memiliki beberapa masalah. Kami kini diharuskan pula untuk mempersiapkan rapat general minggu depan. Padahal seharusnya minggu depan adalah bagian divisi kemuslimahan yang bertugas untuk mempersiapkan rapat general. Namun mungkin karena divisi mereka merasa tidak sanggup untuk menghandle rapat tersebut, alhasil dilemparkan kembali ke divisi ukhwah.

Demikian rapat divisi kali ini.

Catatan Harian Minggu Keenam di Forsia

Jum’at 17 April 2015

Pukul 17.00 sampai selesai

Pada kali ini saya mengikuti Rapat general untuk kedua kalinya. Kali ini rapat general dilaksanakan di RK IKK pada mulai pukul 17.00. karena ada kegiatan lain (tahsin) saya jadi datang telat, namun untungnya rapat belum dimulai. Ketika saya masuk ruangan, 10 menit kemudian rapat dimulai.

Pertama-tama dibuka dengan tilawah dari salah satu anggota Forsia. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Forsia. Setelah itu dilanjutkan dengan progress report masing-masing divisi. Kali ini ini divisi Ukhwah kedapatan untuk presentasi pertama. Kebetulan rapat kali ini, ketua ukhwah sedang berhalangan hadir sehingga digantikan oleh sekretaris ukhwah yaitu Khoirina atau biasa disebut “Oi” untuk mempresentasikan progress report divisi ukhwah. Kami menjelaskan mengenai kegiatan tahsin dan mentoring, studi banding eksternal dan studi banding internal.

Setelah melakukan presentasi mengenai progress report, untuk sementara rapat di pause terlebih dahulu karena adzan maghrib dan harus sholat terlebih dahulu. Sayangnya saya hanya dapat mengikuti rapat sampai sini saja karena saya ada agenda rapat biro internal BEM. Namun meskipun demikian, saya masih mengikuti jalannnya rapat dengan bertanya kepada salah satu teman baik saya yang sekaligus juga anggota Forsia di divisi Syiar, yaitu Sinta.

Ketika saya bertanya pada Sinta apa yang terjadi pada rapat kala itu, Sinta menceritakan bahwa terjadi perdebatan antara beberapa pihak mengenai sepak-terjang Forsia tahun ini. Ada beberapa anggota yang merasa bahwa kinerja Forsia tahun ini menurun jika dibandingkan dengan tahun kemarin. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu mengerti mengenai hal ini karena saya tahun lalu juga tidak berkecimpung dalam dunia Forsia. Selain itu perdebatan ini juga katanya membawa emosi dari pihak-pihak tertentu. Namun keluar dari berbagai perdebatan tersebut, itu semua karena adanya rasa peduli terhadap Forsia itu sendiri.

Forsia.. For Us, For Fema, For Islam, Allahu Akbar!

Catatan Harian Minggu Kelima di Forsia

Minggu 29 Maret 2015

Pukul 08.00 sampai 11.15

                Pada magang di Forsia minggu ini saya mengikuti acara yang diadakan oleh divisi Kemuslimahan, yaitu acara Kajian Muslimah. Acara ini merupakansalah satu program kerja dari divisi kemuslimahan yang kali ini membahas mengenai “Muslimah Prestatif” dengan mengundang dua pebicara yaitu yang pertama adalah Ibu Eny Palupi selaku dosen dari departemen gizi masyarakat dan Khadijah Hasim selaku mahasiswa berprestasi 1 dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen 2015. Acara ini dimulai pukul 7.30 hingga 10.00. Karena acara ini merupakan program dari divisi kemuslimahan, dan acaranya sendiri berjudul “Kajian Muslimah” maka panitia, peserta dan pembicaranya tentu wanita semua. Namun meskipun demikian, divisi kemuslimahan ini juga dibantu oleh beberapa lelaki dari divisi lain untuk membantu dalam bidang logstran namun mereka menunggu di luar ruangan karena acara ini dikhususkan bagi wanita.

                Dalam acara ini, kedua pembicara bercerita mengenai pengalaman-pengalaman yang inspiratif, mulai dari bagaimana menjadi mahasiswa berprestasi hingga pengalaman dari Ibu Eny di Jerman saat sedang menempuh kuliah disana beserta identitas kemuslimahannya. Semua tersaji secara menarik dalam kajian muslimah.

                Acara berlangsung secara menarik dan banyak peserta yang hadir. Koordinasi yang dilakukan panitia pun cukup bagus meskipun acara agak sedikit terlambat dimulainya.

                Dari acara kajian muslimah ini didapatkan satu quote yang sangat menarik dariketua divisi kemuslimahan, yaitu Eka yang berbunyi “Dakwah itu memang harus berjamaah. Dalam dakwah tidak ada kata lelah. Jika kau mau beristirahat, hanya Surgalah tempat kita beristirahat. Sebesar apakah cintamu pada jalan ini? Hanya cinta, bulir-bulir keringat, tangis dan langkah-langkah tegapmu yang akan membuktikannya” (Sari, 2015)

Titik terendah

Akhirnya hasrat itu muncul kembali setelah sekian lama. Jari-jariku kini menari-nari lagi diatas keyboard menuliskan kisah-kisah yang ada dipikiranku sejak lama. Tak lupa ditemani oleh sepiring oatmeal dan sup dengan penyegar “rujak tomat” yang kubeli dari warung sebelah. Ups, hampir lupa risolles dan juga kue sus yang sudah kusantap duluan. Ahh.. nikmat rasanya ku santap semua pangan itu setelah kemarin malam melewatkan santap malam karena deadline tugas.

Tugas tugas dan tugas. Ya, itulah santapan setiap hari para kaum mahasiswa sepertiku. apalagi sudah memasuki semester enam yang memang sangat padat. Untukku, tugas bukanlah suatu hal yang harus dieluh-eluhkan, tapi dikerjakan. Yah.. walaupun tak jarang aku sendiri sering mengeluh dan berpikir tentang tugas, bukan mengerjakannya. Kali ini pun aku tengah dihadang oleh dua tugas besar yang harus diselesaikan secepatnya.

Entah kenapa walau dua tugas ini sedang menghadangku tepat didepan mata,  aku lebih ingin mengutarakan apa yang kurasakan saat ini kedalam bulir-bulir tulisan. Aku merasa sedang berada di titik terendah dalam hidupku. Titik terendah? Entahlah.. sebenarnya aku juga tidak mengerti apa maksud kata-kata itu. Aku hanya merasa aneh. Dan hampa. Aku merasa waktu berjalan begitu cepat, bak kecepatan cahaya. Rasanya baru kemarin aku tamat SD, kini sudah mau beranjak KKP1 saja. Beranjak memasuki saat-saat KKP adalah pertanda bahwa waktuku di bangku perkuliahan ini sudah mulai menipis. Ini berarti aku akan segera memasuki masa akhir dari hidupku. Ku akan menjadi orang dewasa dan siap untuk bekerja serta hidup secara mandiri. Tapi tunggu. Sebenarnya aku belum siap untuk semua ini. Apakah ini efek dari percepatan yang aku alami sebelumnya?

Saat aku melihat kebelakang, aku tak pernah menyangka akan menjadi seperti ini. Semua berawal dari  Tya kecil yang suka berkhayal dan memiliki tekad besar terhadap berbagai hal. Ya, aku masih ingat saat berumur sekitar 10 tahun ada seorang guru yang menceritakan tentang program akselerasi di suatu sekolah menengah pertama. Dissitu aku merasa tertarik dengan program tersebut walau aku tak ingat kenapa aku bisa tertarik. Tapi yang jelas berkat informasi tersebut aku selalu menanamkan dipikiranku bahwa aku harus masuk akselerasi. Berawal dari sana, setiap kali mandi aku selalu membayangkan menjadi salah satu siswi di dalam program tersebut. Absurd memang, membayangkan disaat mandi. Tapi itu adanya.

Waktu terus berjalan hingga akupun memasuki kelas 6. Kebetulan sekali aku masuk dikelas “orang-orang pintar.” Sejujurnya aku sama sekali tidak merasa pintar, mungkin beruntung.  Saat itu para guru mati-matian mempersiapkan agar muridnya bisa mendapatkan nilai UN yang baik dan dapat masuk ke sekolah menengah yang baik pula. Salah satu program sekolah yang paling hitz selain akselerasi adalah program RSBI2. Sekolah ku merupakan satu kepengurusan dengan salah satu sekolah menengah berbasis RSBI kala itu. Guru-guru pun me-list siswa-siswi yang dapat direkomendasikan untuk masuk ke sekolah RSBI tersebut, salah satunya aku. Tentu saja aku sangat senang karena masuk ke jajaran kandidat smp ternama dantentunya saat itu aku beranggapan bahwa diriku sangat keren. Namun meskipun demikian aku tak lupa akan ketertarikanku pada program akselerasi. Aku pun juga mendaftarkan diri pada proram tersebut di SMP 1 yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku.

Well, pendaftaran akselerasi memang jauh lebih cepat daripada program reguler dan RSBI, itu sebabnya aku bisa mendaftar keduanya.  Setlah lolos berkas-berkas administrasi aku pun masuk pada tahap tes tulis. Aku mengikuti tes tulis ini bersama beberapa teman dari sekolah asalku, kalau tidak salah ada sekitar tujuh orang. Jika aku sadar diri, aku bukanlah orang terpintar dalam hal akademik saat itu. Namun ternyata setelah datang pengumuman, aku lolos ke tahap selanjutnya bersama kedua temanku yaitu Icha dan Anita. Tahap selanjutnya adalah tes IQ yang menjadi penentu apakah aku lolos menjadi siswi akselerasi atau tidak. Untuk melewati tahap ini aku diharuskan memiliki IQ minimal 130. Aku tak ingat apa yang aku pikirkan tentang hal itu. Tapi yang jelas aku ingat adalah bahwa pengumuman penerimaan siswa akselerasi adalahsatu hari sebelum tes tulis program RSBI. Rasanya pada saat itu sangat amat gugup, apakah aku akan lolos atau tidak. Tapi yang jelas aku sudah mempersiapkan untuk tes di program RSBI.

Hari yang ditunggu pun tiba, orang tuaku datang ke SMP 1 untuk melihat pengumuman dan aku hanya menunggu di rumah. Tak lama kemudian dering telepon pun berbunyi. Seperti dugaanku, dari Ibu. Dan ternyata, aku dinyatakan lolos akselerasi. Aku tak ingat bagaimana ekspresi dan perasaanku saat itu. Yang jeas aku senang karena esok harinya aku tak perlu untuk mengikuti tes program RSBI, karena aku tidak suka tes seperti itu. Dan yang jelas dipikiranku adalah aku tidak perlu berlama-lama belajar. Karena waktu tiga tahun hanya ditempuh dua tahun.

Tya kecil yang saat itu belum mengerti bahwa di dalam dunia akselerasi tidak semudah yang dia bayangkan. Banyak sekali permasalahan yang dia hadapi didalamnya. Mulai dari pergaulan dengan teman-teman “idiot” nya sampai dengan hampir dikeluarkan dari akselerasi. Tapi, sebenarnya apa yag terjadi?

To be continued…….

1KKP : Kuliah Kerja Profesi

2RSBI : Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional

Catatan Harian Minggu Keempat di Forsia

Jum’at 27 Maret 2015

Pukul 17.00 sampai 18.15

                Pada rapat divisi kali ini dilaksanakan di kantin Plasma mulai dari pukul 17.00 sampai dengan 20.30. Hal yang pertama kali dibahas adalah mengenai Studi banding ke ITB. Sampai saat ini divisi Ukhwah masih bingung harus menghubungi Lembaga Dakwah Fakultas apa di ITB. Dari pihak ketua (Dafhi) menginginkan dari Lembaga Dakwah Fakultas yang sudah lama berdiri. Hal ini karena agar kita (Forsia) dapat belajar banyak dari mereka yang sudah lama berdiri dan banyak pengalamannya. Untuk rencana sementara adalah dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. Kemudian acara yang terdapat dalam studi banding tersebut nantinya adalah saling tukar informasi mengenai program kerja dari masing-masing pihak, dan kemudian akan ada campus tour oleh pihak ITB.

                Hal kedua yang dibicarakan adalah mengenai evaluasi dari acara “Temu Perdana Tahsin dan Mentoring” yang dilaksanakan pada tanggal 22 Maret 2015. Pada acara tersebut ternyata peserta yang hadir hanyalah satu orang saja, sedangkan peserta lainnya adalah dari anggota Forsia itu sendiri.  Hal ini sangat disayangkan karena yang datang hanya satu orang. Selain itu, divisi ukhwah juga kekurangan SDM. Dan juga rapat terakhir mengenai persiapan acara temu erdana ini hanya dihadiri oleh tiga orang saja. Hal ini tentunya membuat persiapan menjadi kurang matang sehingga publikasi juga kurang gencar dan yang datang hanya satu orang. Selain itu, sebenarnya ada beberapa permasalahan yang ikut dibahas pada topik ini. Salah satu penyebab “sepi”nya acara tersebut adalah karena bentrok dengan acara lain dari BEM, yaitu Espent, yang tentunya akan menjadi perebutan masa. Dan tentunya akan banyak masa yang lebih memilih untuk datang ke event Espent yang notabene lebih meriah dan lebih mengasyikkan daripada mengikuti acara Temu Perdana Tahsin dan Mentoring ini. Selain itu muncul banyak perdebatan dalam rapat kali ini, seperti muncul pula pertanyaan “kenapa Forsia selalu dinomor duakan?” mendengar pertanyaan tersebut saya hanya diam dan berpikir. Sebenarnya bukan masalah “dinomorduakan” atau “dikesampingkan” namun lebih pada prioritas dan kebutuhna apa yang saat itu mhasiswa dan mahasiswi Fema butuhan. Sepertinya memang pada saat tersbebut mahasiswa dan mahasiswi Fema lebih memprioritaskan pada acara Espent tersebut karena banyak yang menjadi atlet dan beberapa menjadi pendukung. Menurut saya ini hanyalah masalah waktu. Kebetulan saja acara Temu Perdana Tahsin dan Mentoring ini bertepatan dengan pertandingan Espent.

                Keluar dari permasalahan-permasalahan yang muncul tadi, telah dibentuk BPH untuk membantu Islamic Student Center (ISC) dalam mengurus Tahsin dan Mentoring yaitu saya sebagai wakil ketua, Elsa sebagai sekretaris dan Vishy sebagai bendahara.