Berani Berhijrah

“Tobat lu, Ty?”

“Subhanallah ukhty..”

“Ciyee hijrah..”

“Kesambet apaan lu?”

Ya, kira-kira begitulah tanggapan teman-teman yang melihat beberapa perubahan dari diri gue.  (kilas balik : Sebenernya gue udah dari TK pake kerudung. Karena orangtua gue masukin gue ke TK dan SD swasta Islam. SMP dan SMA pun gue kalau di sekolah juga pake kerudung. Tapi masih sering buka tutup gitu. Maklum lah, gue masih gak paham apa maksud dari pake kerudung itu sendiri. Tapi pas masuk kuliah, gue udah mengerti kenapa harus berkerudung karena itu memang sudah menjadi kewajiban seorang muslimah yang sudah dewasa. Tapi meskipun begitu, gue selama kuliah juga pake kerudungnya yang biasa aja dan cenderung tidak terlalu menutupi dada dan gue hobby banget pakai baju yang agak ketat dan celana jeans. Nggak sadar body dah kek gajah, pakenya baju ketat-ketat hiks.)  Sebagian dari mereka ada yang heran tetiba gue berubah jadi pake kerudung panjang sama rok. Tapi nggak sedikit juga yang kasih pujian dan juga semangat ke gue biar istiqomah. Well, kalau diatanya gara-gara siapa sih gue mau berubah kayak gini? Ada beberapa yang ngiranya gue berubah jadi lebih muslimah karena “seseorang”. Atau karena ikutan seminar pra-nikah pas akhir tahun 2016 lalu. Sayang sekali, anggapan mereka tersebut semuanya salah. Jadi kenapa gue tetiba berubah jadi lebih muslimah, padahal nggak ada angin nggak ada hujan?

Pertamanya itu gegara sidang skripsi yang tak kunjung jelas hilalnya. Gue pun berdoa dan berdoa agar sidang skripsi gue bisa dilaksanakan seseger mungkin. Gue juga bernazar apabila gue bisa sidang tanggal 11 Oktober, gue bakal : (1) Puasa Senin-Kamis sampai akhir tahun, dan (2) Pakai rok dan kerudung panjang sampai akhir Oktober. Dan alhamdulillah ternyata Allah mengabulkan doa gue, gue sidang tanggal 11. Alhasil gue pun menjalankan nazar gue pakai baju serba panjang dan tertutup. Tapi sebenernya dalam hati gue, gue pengen berpakaian kayak gitu sejak dari lama. Tapi gue masih belum percaya diri dan belum mantep. Nah baru deh pas nazar itu, mantep nggak mantep harus dimantepin. Gue pun  ngomong sama diri gue sendiri, kalau misalnya gue udah kebiasa pake rok dan kerudung panjang, gue bakalan lanjut pakai busana kayak gitu terus bahkan ketika masa nazar gue udah habis.

Tanpa gue sadari, hari demi hari gue laluin dengan pakai baju serba panjang dan kerudung menutup dada yang gak dimodel-model. Lama-lama gue ngerasa kalau pakai pakaian kayak gitu tuh nyaman juga. Gue pun memutuskan untuk tetap memakai rok dan kerudung panjang, bahkan sampai sekarang. Gue tahu kalau pakaian gue juga belum terlalu sempurna. Gue juga masih pakai rok yang model skinnyskirt gitu. Tapi setidaknya gue sudah say goodbye sama celana jeans gue yang sekarang bertengger di lemari rumah. Gue juga udah nggak pernah pakai kerudung paris yang super tipis bin nerawang itu. Gue juga selalu berusaha pakai kerudung yang menutup dada. Pokoknya gue mencoba berubah dari gue yang sebelumnya.

Lambat tapi pasti, gue mencoba merubah diri gue menjadi muslimah yang lebih baik dari sebelumnya. Meskipun gue tahu, gue masih punya banyak sekali kekurangan. Tetapi setidaknya gue udah mau mencoba. Kalau ada yang bilang, kerudung panjang yang terlalu “syar’i” itu agak gimana-gimana (muslimah banget, atau bisa dibilang ekstrimis)  itu sebenernya nggak juga sih. Itu kan emang udah dijelasin di Al-quran kalau wanita yang sudah dewasa wajib menutup auratnya dengan mengulurkan hijab ke dada dan seluruh tubuhnya. Gue berhijab panjang bukan berarti gue udah baik dan sempurna. Tapi gue berusaha untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Kalaupun ada yang bilang “mending jilbabin hati dulu deh, belum siap” yahh sekarang gue tanya balik “memangnya jilbabin hati itu seperti apa ya? Lalu siapa yang menyuruh jilbabin hati? Kalau jilbabin seluruh badan sudah ada ketentuannya lho di Al-Quran. Itu perintah langsung dari Allah. Wajib cuy.”

QS. Al-Ahzab: 59, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”

Terus kalau ada yang bilang, “yang berhijab itu belum tentu baik.” Ya, bener banget. Yang berhijab itu belum tentu baik. Tapi yang berhijab itu sudah pasti mentaati perintah Allah. Hijab itu bukan tolak ukur ketaqwaan seseorang. Tapi dengan hijab, bisa menahan kita dari segala perilaku buruk. Karena kita sadar bahwa ada hijab yang memebentengi diri kita. Singkatnya dan gampangnya tuh gini “Masa iya sih gue berbuat maksiat. Malu lah sama hijab gue.” Gitu guys..

Jadi begitulah cerita singkat gue berhijrah dari yang pake kerudung biasa aja dan pake baju mayan ketat sampe pake kerudung yang panjang menutup dada plus rok. Sekarang ini gue pakai baju panjang dan kerudung menutup dada itu semata-mata karena Allah SWT dan juga untuk mengurangi dosa-dosa Bapak gue. Secara, kalau cewek belum nikah, dosa-dosanya bakal ditanggung bapaknya. Gue nggakmaulah bapak gue nanggung dosa gue. Sedih gue, berasa durhaka. Maka dari itu gue berubah dan lebih menjaga diri juga demi bapak gue.

Well, sepertinya ditulisan ini gue pake banyak istilah mulai dari kerudung-jilbab-hijab. Pokoknya yang gue maksud itu ya sehelai kain yang menutup kepala hingga dada. (dulu jaman gue sekolah bilangnya kerudung/jilbab, kalau jaman sekarang bilangnya hijab. Walaupun gue tau masing-masing istilah beda makna. Tapi lah yaaaa sudah, kita samakan saja maksudnya ya).

Advertisements

Enak Ya Udah LULUS?

“Duh, pengen cepet-cepet lulus deh”

“Pengen cepet-cepet nyelesaiin skripsi”

“Besok langsung wisuda aja bisa nggak sih???”

“Males banget kuliah ih, pengen cepet-cepet kerja aja terus nikah hahaha”

Itulah beberapa pernyataan dan pertanyaan yang sering diajukan oleh mahasiswa, khususnya mahasiswa tingkat akhir. YA, dulu sebelum saya sidang dan resmi lulus, saya juga sering menyatakan dan menanyakan hal-hal tersebut. Tapi, tahukah kalian bahwa sesungguhnya kehidupan kampus dan perkuliahan di dalamnya itu jauh lebih indah dan nikmat apabila dibandingkan dengan kehidupan pasca kampus yang sangat keras. Kenapa? Kalian nggak percaya? Berikut adalah ketiga fakta yang telah saya temukan dan alami selama satu bulan resmi jadi freshgraduate alias jobseeker alias unemployement alias, ya, pengangguran, hiks.

  1. Setelah lulus, kalian mau ngapain? Ini pertanyaan mutlak bagi bara lulusan baru. Kalian mau lanjut kuliah S2? Atau kerja? Atau menikah? Oke, kita abaikan saja pertanyaan ketiga. Berdasarkan survey yang saya lakukan secara gamblang dengan metode stalker dan kepo-kepo cantik, saya menemukan fakta bahwa sekitar 95% para freshgraduate akan bekerja setelah lulus, dan hanya 5% saja yang melanjutkan kuliah S2. Kenapa? Karena sebagian besar dari mereka menganggap bahwa mereka masih dalam fase “capek” untuk belajar apalagi dengan memulai dengan penelitian baru. Sehingga mereka memutuskan untuk mencari kerja dan menghasilkan uang sendiri. Sementara untuk yang ingin melanjutkan S2 hanya ada dua alasan (yang saya temui di lapang), yaitu karena dia memang ingin melanjutkan studinya (bisa berdasarkan minat dalam diri, maupun saran orang tua), atau karena dia bingung mau ngapain, sedangkan dia belum siap untuk kerja, makanya S2 jadi pelarian.
  2. Ketika freshgraduate telah memutuskan untuk mencari kerja, disinilah masa-masa paling berat. Disinilah masa-masa kita akan merasa menjadi manusia paling tidak berguna di muka bumi ini. Disinilah masa-masa kita merasa dilema, di satu sisi kita malu untuk minta uang ke orang tua karena sudah bukan mahasiswa lagi. Tapi di satu sisi, kita belum dapat pekerjaan dan otomatis belum punya uang sendiri. Memang buah simalakama. Serba salah. Mencari kerja pun tak semudah saat kita belajar dengan metode SKS (re: Sistem Kebut Semalam) saat mau ujian besok. Karena mencari kerja itu cocok-cocokkan. Nggak seenak jidat sehari dua hari langsung dapet kerja. Kenapa? Karena kita harus menyesuaikan passion dengan kerjaan kita. Selain itu juga kita harus pikir-pikir mengenai perusahaannya. Apakah bonafit atau tidak. Ditambah lagi kalau jurusannya terlalu “anti-mainstream”, kita harus pintar-pintar cari peluang. Belum lagi kalau kita punya pendirian yang terlalu idealis, misalnya tidak mau bekerja di perusahaan rokok, perbankan, finance, atau perusahaan yang punya citra buruk di masyarakat. Ya, semua tergantung dengan filosofi dan prinsip kita. Menurut hemat saya, semakin kita tidak memperdulikan idealisme kita, maka akan semakin mudah dan cepat untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini karena kita tidak akan dibentengi oleh “syarat-syarat” tertentu dalam mencapai kerja.
  3. [Ini belum saya alami sendiri, tapi berdasarkan research dari yang dialami oleh teman-teman]. Sudah dapat kerja bukan berarti bebas. Karena justru ketika bekerja itulah kehidupan yang sesungguhnya dimulai. Kita akan sulit membedakan mana kawan dan lawan. Maka dari itu tetaplah waspada. Dunia pekerjaan sangatlah berbeda dengan dunia kuliah. Apabila saat kuliah kita masih dapat memiliki teman-teman dekat dan percaya dengan mereka, maka di dunia kerja bisa saya katakan ini sulit. Di dunia kerja, bisa saja yang terlihat baik dan seolah-olah merupakan teman dekat kita malah justru merupakan musuh dalam selimut. Belum lagi ketika kita sudah all out dalam menjalankan pekerjaan, tidak diberikan reward, jadi harus sabar-sabar. Berbagai tekanan yang dihadapi pun jauh lebih sulit daripada kuliah. Kita harus bertindak secara profesional dan bertanggung jawab atas semua tindakan. Hanya ada dua pilihan di dunia kerja, survive or resign. Saran saya untuk orang-orang diluar sana yang sedang mencari kerja (*termasuk saya sendiri), carilah pekerjaan yang benar-benar anda senangi. Kalau boleh saya saran jangan punya prinsip seperti ini :

“Nggak apa-apa kerja apapun, yang penting kerja deh.”

Jangan ya. Kalau bisa jangan. Karena dengan prinsip seperti itu, kalian terlihat sekali orientasinya adalah “uang” dan “kata orang.” Apabila kalian menerapkan prinsip ini dalam diri kalian, saya yakin kalian tidak akan lama bertahan dalam pekerjaan tersebut. mungkin paling lama satu bulan saja, bahkan kalau belum taken kontrak bisa jadi hanya satu hari bertahan. Ini nyata, dari pengalaman teman.

Kalau kata saya:

“Lebih baik sabar dan menunggu sedikit lebih lama untuk pekerjaan yang sesuai dengan kita. Tidak usah takut cibiran dari orang ataupun rizki yang tak kunjung datang. Karena Tuhan tak pernah tidur. Maka selain berusaha, berdoalah kepada Tuhan agar kalian segara diberikan rizki yang halal dan tayib.”

Kalau kalian menerapkan prinsip yang ini dalam diri kalian, niscaya kalian akan mendapatkan pekerjaan terbaik untuk diri kalian. Kadangkala freshgraduate lupa, dia hanya berusaha saja tanpa berdoa. Ingatlah kawan, yang memberikan rizki adalah Tuhan. Kenapa kalian tidak meminta dan memohon kepada-Nya? Kenapa kalian terlalu sombong dan sibuk sampai-sampai lupa untuk memohon kepada sang pemberi rizki. Jika kalian merasa sudah maksimal dalam berusaha mencari kerja, namun tak kunjung dapat pekerjaan, coba evaluasi diri. Apakah kalian sudah berdoa?

Nah, itulah tadi ketiga fakta yang saya temukan selama sebulan resmi menjadi freshgraduate. Kalau ada yang nanya, “Sekarang udah daftar dimana, Ty?” saya akan jawab “Daftar dimana-mana, doain aja ya biar cepet dapet kerja. Heheheh.” Ohiya, nanti kalau saya sudah dapat pekerjaan, akan saya share perusahaan apa saja yang telah saya coba lamar sebelumnya dan berbagai tahapan yang pernah saya lalui. Untuk kamu yang sedang mencari pekerjaan, tetap semangat ya! Kamu tidak sendirian kok, heheh. Ganbarimashou, Minna San 🙂

img_003d

Awal atau Akhir?

Kiranya sudah hampir satu tahun lebih aku tak berkunjung ke situs catatan harian elektronikku yang satu ini. Alasannya mungkin karena sibuk? Yak. Sibuk dengan media sosial yang lebih ngetrend lainnya seperti instagram, snapchat, LINE, dan sumber hiburan maa kini, YouTube. Oh iya, sampai lupa. Sibuk sama penelitian dan skripsi. Terakhir ku curahkan isi hati dan pikiranku disini adalah mengenai pengalamanku saat KKP di Natuna setahun yang lalu.

Well, time flies. Baru saja dua hari yang lalu, tepatnya tanggal 11 Oktober 2016 aku melaksanakan sidang skripsi dan dinyatakan lulus. Senang? Iyalah, PASTI. Gimana nggak senang? Aku yang harusnya mundur satu semester karena exchange, ternyata bisa juga lulus cepat. Lulus cepat? Iya.

Jadi sebenarnya saat ku sidang, masih ada beberapa teman di KPM 49 yang belum lulus. Dan mereka itu harusnya bisa lebih dulu dari aku. Anyway, aku juga sangat bersyukur atas pencapaianku ini. Kalau dihitung-hitung, aku melaksanakan penelitian (termasuk nyusun proposal penelitian dan skripsi) kurang lebih 5 bulan saja. Yup. 5 Bulan. Dari Bulan Mei sampai Oktober.

Question : KOK BISA CEPET SIH TY??

Answer : Hmm.. Gimana jawabnya ya? Ya, mungkin karena aku sudah memiliki target sejak awal. Jadi aku itu sudah mempersiapkan sebisa mungkin rencana-rencanaku kedepannya. Termasuk target lulus. Aku sudah menyiapkan penelitian sejak masih Studi Pustaka (SP). Diawal, aku sudah menyiapkan topik penelitianku,yang jatuh pada Modal Sosial. Kemudian aku menentukan siapa yang mampu membimbingku untuk menyelesaikan penelitian ini. Aku pun memilih Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS untuk menjadi pembimbing skripsiku. Kenapa beliau? Alasannya adalah karena beliau lah satu-satunya dosen yang kalau menjelaskan kuliah aku bisa paham. Simpel. Setelah dibimbing beliau, aku pun bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu kolokium. Alhamdulillah aku termasuk golongan awal yang melakukan kolokium di kala itu. (Jdi singkat cerita, aku itu jadi barengan sama anak aksel KPM 50.) Saat itu aku kolokium pada Hari Senin, 27 Juni 2016. Kemudian aku mulai penelitian tanggal 1 Agustus 2016 dan melanjutkan mengolah data dan menulis skripsi. Sebenarnya aku bukanlah anak yang rajin. Tapi aku memiliki tekad dan semangat yang menggebu-gebu untuk menyelesaikn skripsi. Alasannya? Karena aku nggak mau lama-lama belajar dan menghadapi dunia pembelajaran yang isinya teori dan segala idealismenya. Terus melihat banyak teman-teman KPM 49 yang belum sidang membuatku semakin bersemangat untuk menyaingi mereka. hehehee. Maaf ya. Dibimbing oleh Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS membuatku merasa menjadi mahasiswa paling beruntung. Selain baik, beliau sangat mendukungku untuk segera menuntaskan skripsi dan sidang. Tak perlu banyak waktu, ku hany melkukan revisi sekali dengan Bapak dan langsung di acc untuk sidang. Awalnya aku berencana unuk sidang pada 1o Oktober 2016. Tapi karena belum dapat acc dari dosen penguji utama (dosen penguji akademik sudah acc), beum bisa sidang. Alhasil aku pu melakukan sesi curhat dengan Bapak pada tanggal 10 karena belum di acc. Bapakku (Pak Tonny) pun heran mengapa demikian, karena untuk segi substansi sudah bagus. Namun karena dua dosen telah acc untuk sidang (dosbig dan dosen penguji akademik), maka Bapak menyuruhku untuk daftar sidang untuk besoknya dan membantuku meng-sms penguji utama agar bisa sidang. Dosen penguji utamaku akhirnya bersedia dan aku pun sidang pada Hari Selasa, 11 Oktober 2016.

Question : Gimana rasanya pas sidang? Deg-degan nggak? Nggak takut karena ngelangkahin dosen penguji utama?

Answer : Awalnya takut banget. Takut dibantai sama penguji utama. Tapi kata Bapak, nggak usah takut. Karena yang tau kondisi lapang kan aku. JAdi percaya diri aja, InsyaAllah bisa. Aku sih banyak-banyak berdoa pas mau sidang. Aku juga tanya anak bimbingannya penguji utamaku. Alhamdulillah pas sidang aku nggak degdegan sama sekali. Dan Alhamdulillah dosen-dosennya semua baik. Alhamdulillah juga dinyatakan LULUS.

Aku sangat bersyukur dengan pencapaianku. Aku juga bersyukur, meskipun sahabat-sahabatku (Eva, Pinola, Vishy, Sinta) nggak ada yang datang, tapi teman-teman tersayang dan terkasih yang lain pada datang. (nggak usah disebutin satu-satu lah ya). Tapi yang jelas memang ada yang spesial waktu itu.

Aku berterimakasih kepada semua orang, baik itu yang datang maupun tidak. Karena semua juga berkat dukungan dan doa kalian.

Selesai sidang aku sangat amat bahagia. Tapi sehari setelahnya, aku merasa sedih. Inikah akhir dari semua? Karena setelah ini akan sangat sulit bertemu dengan teman-teman. Akan sangat sulit karena tidak ada alasan untuk bertemu. Akan sangat sulit karena setelah ini aku akan menghadapi dunia yang sebenarnya. Dan aku sangat sedih ketika tidak bisa lagi bertemu dengan orang-orang yang kusayang. Semua akan sibuk pada dunia nya masing-masing.

“Ini bukanlah akhir, melainkan awal untuk memulai yang baru.” (Nasdian, 2016)

Oh iya, let me post some photos pas aku sidang..

 

Serba-Serbi Pulau Subi, Natuna : Serunya KKN-P di Pulau Terluar Indonesia

kkn

Natuna merupakan daerah terluar dari NKRI yang masuk kedalam Kepulauan Riau. Natuna memiliki banyak potensi yang terdapat didlamn, baik itu poteni minyak, perikanan, perkebunan maupun pertanian. Natuna juga memiliki ratusan pulau-pulau diujung perbatasan Indonesia dengan negara-negara lain. Namun meskipun memiliki banyak potensi, Natuna masih kurang memanfaatkannya secra maksimal sehingga dibutuhkan pemanfaatan yang baik oleh beberapa pihak.

Pada tahun ini Natuna kembali terpilih menjadi salah satu daerah yang dijadikan lokasi Kuliah Kerja Nyata – Berbasis Profesi (KKN – P) dari Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Di Natuna terdapat tiga desa yang dijadikan lokasi, yaitu Desa Arung Ayam, Desa Payak, Desa Terayak, Desa Subi Besar, Desa Pulau Panjang dan Desa Kerdau. Masing-masing dari kelompok beranggotakan enam orang dari departemen yang berbeda-beda. Saya, Tyagita Indahsari W, merupakan mahasiswa SKPM 49 merupakan salah satu mahasiswa yang terpilih untuk melksanakan KKN-P di Natuna, tepatnya di Desa Terayak, Kecamatan Subi, Pulau Subi Kecil, Kabupaten Natuna. Saya beserta kelima teman saya dari departemen yang berbeda-beda ini dapat menjangkau Pulau Subi dengan perjalanan “khusus” yang sangat panjang dengan rute Bogor-Jakarta, Jakarta-Pontianak, Pontianak –Pulau Serasan, Pulau Serasan-Pulau Subi.

Kami berangkat seminggu lebih awal dari jadwal keberangkatan sesungguhnya, yaitu pada tanggal 19 Juni 2015. Dari kampus kami  menggunakan bus menuju ke bandara. Setelah sampai di bandara kami langsung terbang ke Pontianak dan langsung dijemput oleh bis TNI-AL untuk menuju ke pelabuhan dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Subi menggunakan kapal sabuk selama kurang lebih 31 jam perjalanan. Sebelum mencapai Pulau Subi, kami berpindah dari kapal ke perahu motor atau yang biasa disebut “pompong” untuk mencapai daratan Subi. Hal ini karena tidak adanya pelabuhan besar untuk kapal sehingga mobilitas hanya dapat menggunakan pompong.

Selama kurang lebih dua bulan saya dan kelompok saya menjalani KKN-P disini. Di Pulau Subi ini kami mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga. Bahkan untuk pertamakalinya kami tinggal di rumah panggung yang sudah sekitar tiga tahun tak berpenghuni. Kelembagaan yang erat, kerjasama, kearifan lokal serta kepercayaan antar masyarakat dirasa masih sangt kental. Masyarakat di Pulau ini menjunjung tinggi asas kekeluargaan, sehingga tak heran apabila setiap warga desa pasti kenal dengan warga desa lainnya, bakan kenal dengan warga se-pulau.

Adapun kebiasaan unik yang terdapat di Pulau Subi ini, yaitu warga tidak pernah mencabut kunci motornya saat diparkir, baik itu di depan rumahnya sendiri, depan rumah orang lain, maupun di toko. Hal tersebut karena warga sudah percya satu sama lain sehingga apabila kunci mereka cabut, malah dinggap tidak percaya dan mencurigai warga lain. Selain itu warga juga tidak pernah mengunci pintu rumah mereka dan membiarkannya terbuka walaupun tidak ada orang. Hal ini tentunya sangat membuktikan betapa percayanya warga Subi antara satu dengan yang lain.

Berdasarkan hasil diskusi yang telah kelompok kami lakukan bersama warga Desa Terayak, kami menemukan berbagai potensi yang jika dikelola akan dapat mengembangkan desa ini seperti penyuluhan, ikan, pemandangan, perkebunan, buah, pertanian sayuran, pelayanan masyarakat dan tanaman pekarangan. Namun kami juga telah menemukan adanya beberapa masalah yang ada seperti kurangnya air bersih, listrik yang hanya 7 jam perhari, tidak adanya pemasaran yang bagus,  kurangnya  kualitas SDM, kurangnya minat masyarakat untuk bertani, masuknya kapal illegal, pendidikan, ekonomi rumah tangga, masalah alat tangkap dan kebersihan lingkungan. Untuk itu kami selaku mahasiswa KKN-P IPB mencoba menawarkan beberapa solusi melalui program-program yang telah kelompok kami bawa dari kampus. Setelah berdiskusi panjang dengan warga, kami menemukan akar permasalahan dari semuanya yaitu kurangnya minat masyarakat untuk mengelola kekayaan SDA yang ada. Contohnya adalah di Pulau Subi ini rata-rata lahan bersifat subur dan akan tumbuh jika ditanami tumbuhan. Masyarakat disini pun rata-rata memiliki tanah yang dapat mereka kelola. Namun sayangnya warga belum mau mengelola lahan trsebut karena berbagai alasan, seperti kurangnya air, banyak hama dan alasan yang paling “klasik” yaitu malas untuk merawatnya. Padahal apabila warga mau mengelola lahan tersebut dengan baik, mereka dapat memenuhi kebutuhan pangan berupa sayur dan buah secara mandiri tanpa harus beli dari luar pulau seperti Kalimantan.

Oleh karena masalah tersebut, kami pun memutuskan untuk mengajukan program-program yang bertujuan untuk memupuk generasi muda agar dapat berambisi untuk mengelola SDA yang sudah ada di Pulau Subi secara optimal. Sasaran program kami rata-rata kepada anak-anak sekolah, yaitu SD dan SMP. Karena pada masa-masa inilah mereka dapat mudah dibentuk dan diarahkan. Namun selain ke anak SD dan SMP, sasaran yang lain juga ada seperti Ibu-ibu dan Bapak-bapak.

Program-program kami antara lain adalah FGD, Penyemiaan Cabai Dan Bayam Merah, Revitalisasi Posyandu, Kreativitas Berbasis Lingkungan Hidup, Pola Hidup Bersih Dan Sehat, Edukasi Pertanian Anak SD, Gerakan Lansia Sehat, Gerakan Ibu Sehat, Pendampingan PAUD, Ayo Menanam, KTKA, Edukasi Reproduksi Pra-Nikah, Pendampingan Gizi Kurang, Coastal Clean Up, Sosialisasi Perikanan Dansosialisasi Keamanan Pangan. Program-program tersebut telah kami sesuaikan dengan apa yang dibutuhkan masyarakat melalui hasil diskusi bersama warga. Selama kurang lebih dua bulan kami menjalankan semua program tersebut dengan respon masyarakat yang cukup baik.

Di Pulau ini bukan hanya kelompok kami sendiri yang menjalankan KKN-P, tetapi juga ada kelompok lain yang mendapati tempat di Pulau Subi Besar. Jarak antara Subi Besar dengan Subi kecil tidak terlalu jauh dan mudah ditempuh hanya melewati jembatan yang melewati Selat Nasi. Sehinga tak heran apabila kelompok kami sering berkunjung satu sama lain dan memiliki kekerabatan yang dekat. Kami pun juga berusaha untuk mengenal warga dari desa-desa lain di luar Desa “Tugas” kami seperti Desa Subi Besar/Timur, Desa Subi dan Desa Meliah.

Pulau Subi juga memiliki potensi wisata yanng bagus. Kami selaku pendatang di Pulau Subi tentunya tak mau melewatkan lokasi-lokasi wisata yang ada. Adapun lokasi wisata di dalam pulau sendiri adalah Pantai Air Lingkung, Bukit Lampu, Pantai Arung Boyo, “embung”, sejenis kolam penampungan air, Batu Ampar, Pantai duyung, Pantai Bidadari, dan masih banyak lagi. Selain itu juga terdapat lokasi wisata di luar pulau seperti Pulau Tudan, yaitu pulau yang tak berpehuni dan banyak terdapat penyu sehingga sering disebut juga Pulau Penyu. Keindahan alam yang disajikan tidak main-main. Laut biru dengan berbagai keindahan bawah laut dibawahnya, langit biru dengan goresan awan yang mempesona, udara segar yang masih murni serta suasana alam yang mendukung membuat kami semua takjub akan kuasa Tuhan terhadap Pulau Terluar Indonesia ini.

Dua bulan merupakan waktu yang singkat bagi kami untuk hidup dan mendapatkan pengalaman disini. Tak terasa waktu kami telah dipenghujung akhir. Kami pun mendapat kabar untuk mengakhiri KKN-P dan segera kembali pulang pada tanggal 24 Agustus dari Pulau Serasan. Hal ini membuat kami harus berangkat meninggalkan Pulau Subi pada tanggal 23 Agustus di pagi hari. Rasanya tak sanggup untuk meninggalkan Pulau yang memiliki banyak kenangan ini. Di saat-saat terakhir kami berpamitan dengan warga, satu persatu anggota dari kelompok kami tak tahan untuk mengeluarkan air mata dan membanjiri setiap rumah yang ada, begitupun dengan warga. Rasanya sudah sangat dekat dengan Pulau Subi sehingga saat meninggalkan Pulau ini rasanya sedih sekali.

Pulau Subi, pulau yang memiliki banyak kekayaan alam dan kekayaan sumber daya manusia di dalamnya. Tidaklah diperlukan sesuatu yang “wah” untuk dapat mengembangkan potensi tersebut. Hanya dibutuhkan kemauan dan tekad yang kuat, Pulau ini akan berkembang dan membuat warganya hidup sejahtera. Kesederhanaan dan sifat tradisional yang masih kental membuat kami semua tahu dan dapat mempelajari pelajaran hidup yang sesungguhnya.

Pulau Subi, Natuna.

  • Tyagita Indahsari W. / SKPM 49-

Catatan Harian Minggu Ketujuh di Forsia

Jum’at 24 April 2015

Pukul 17.00 sampai 18.15

Pada magang kali ini saya menghadiri rapat divisi ukhwah yang dilaksanakan di kantin plasma. Dan pada rapat kali ini saya datang sedikit terlambat karena masih ada agenda lain (tahsin).

Pada rapat kali ini seperti biasa akan membahas berbagai macam hal. Kami membahas mengenai kegiatan danus untuk mendopang acara studi banding eksternal ke ITB. Namun sayangnya saat ini danus belum dapat dilaksanakan karena masih bingung untuk menjual apa. Hal ini karena kami melihat banyaknya persaingan dagang di masing-masing kelas. Akhirnya kami memutukan untuk berjualan snack atau makanan ringan (kue kiloan) karena dirasa cukup banyak peminatnya dan jika tidak laku hari ini dapat disimpan untuk esok hari.

Setelah itu ada pemberitahuan dari Dafhi mengenai absensi kehadiran masing-masing anggota saat rapat. Dafhi menjelaskan bahwa jika anggota sering tidak hadir tanpa alasan yang jelas maka akan diberikan surat peringatan. Saya prbadi setuju dengan hal ini walau agak sedikit “jahat” namun ini bagus demi kedisiplinan para anggota Forsia.

Kemudian kami membahas mengenai studi banding yang mengharuskan adanya perubahan pada proposal karena ada beberapa yang salah.

Selain itu ternyata kami juga memiliki beberapa masalah. Kami kini diharuskan pula untuk mempersiapkan rapat general minggu depan. Padahal seharusnya minggu depan adalah bagian divisi kemuslimahan yang bertugas untuk mempersiapkan rapat general. Namun mungkin karena divisi mereka merasa tidak sanggup untuk menghandle rapat tersebut, alhasil dilemparkan kembali ke divisi ukhwah.

Demikian rapat divisi kali ini.

Catatan Harian Minggu Keenam di Forsia

Jum’at 17 April 2015

Pukul 17.00 sampai selesai

Pada kali ini saya mengikuti Rapat general untuk kedua kalinya. Kali ini rapat general dilaksanakan di RK IKK pada mulai pukul 17.00. karena ada kegiatan lain (tahsin) saya jadi datang telat, namun untungnya rapat belum dimulai. Ketika saya masuk ruangan, 10 menit kemudian rapat dimulai.

Pertama-tama dibuka dengan tilawah dari salah satu anggota Forsia. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Forsia. Setelah itu dilanjutkan dengan progress report masing-masing divisi. Kali ini ini divisi Ukhwah kedapatan untuk presentasi pertama. Kebetulan rapat kali ini, ketua ukhwah sedang berhalangan hadir sehingga digantikan oleh sekretaris ukhwah yaitu Khoirina atau biasa disebut “Oi” untuk mempresentasikan progress report divisi ukhwah. Kami menjelaskan mengenai kegiatan tahsin dan mentoring, studi banding eksternal dan studi banding internal.

Setelah melakukan presentasi mengenai progress report, untuk sementara rapat di pause terlebih dahulu karena adzan maghrib dan harus sholat terlebih dahulu. Sayangnya saya hanya dapat mengikuti rapat sampai sini saja karena saya ada agenda rapat biro internal BEM. Namun meskipun demikian, saya masih mengikuti jalannnya rapat dengan bertanya kepada salah satu teman baik saya yang sekaligus juga anggota Forsia di divisi Syiar, yaitu Sinta.

Ketika saya bertanya pada Sinta apa yang terjadi pada rapat kala itu, Sinta menceritakan bahwa terjadi perdebatan antara beberapa pihak mengenai sepak-terjang Forsia tahun ini. Ada beberapa anggota yang merasa bahwa kinerja Forsia tahun ini menurun jika dibandingkan dengan tahun kemarin. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu mengerti mengenai hal ini karena saya tahun lalu juga tidak berkecimpung dalam dunia Forsia. Selain itu perdebatan ini juga katanya membawa emosi dari pihak-pihak tertentu. Namun keluar dari berbagai perdebatan tersebut, itu semua karena adanya rasa peduli terhadap Forsia itu sendiri.

Forsia.. For Us, For Fema, For Islam, Allahu Akbar!

Catatan Harian Minggu Kelima di Forsia

Minggu 29 Maret 2015

Pukul 08.00 sampai 11.15

                Pada magang di Forsia minggu ini saya mengikuti acara yang diadakan oleh divisi Kemuslimahan, yaitu acara Kajian Muslimah. Acara ini merupakansalah satu program kerja dari divisi kemuslimahan yang kali ini membahas mengenai “Muslimah Prestatif” dengan mengundang dua pebicara yaitu yang pertama adalah Ibu Eny Palupi selaku dosen dari departemen gizi masyarakat dan Khadijah Hasim selaku mahasiswa berprestasi 1 dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen 2015. Acara ini dimulai pukul 7.30 hingga 10.00. Karena acara ini merupakan program dari divisi kemuslimahan, dan acaranya sendiri berjudul “Kajian Muslimah” maka panitia, peserta dan pembicaranya tentu wanita semua. Namun meskipun demikian, divisi kemuslimahan ini juga dibantu oleh beberapa lelaki dari divisi lain untuk membantu dalam bidang logstran namun mereka menunggu di luar ruangan karena acara ini dikhususkan bagi wanita.

                Dalam acara ini, kedua pembicara bercerita mengenai pengalaman-pengalaman yang inspiratif, mulai dari bagaimana menjadi mahasiswa berprestasi hingga pengalaman dari Ibu Eny di Jerman saat sedang menempuh kuliah disana beserta identitas kemuslimahannya. Semua tersaji secara menarik dalam kajian muslimah.

                Acara berlangsung secara menarik dan banyak peserta yang hadir. Koordinasi yang dilakukan panitia pun cukup bagus meskipun acara agak sedikit terlambat dimulainya.

                Dari acara kajian muslimah ini didapatkan satu quote yang sangat menarik dariketua divisi kemuslimahan, yaitu Eka yang berbunyi “Dakwah itu memang harus berjamaah. Dalam dakwah tidak ada kata lelah. Jika kau mau beristirahat, hanya Surgalah tempat kita beristirahat. Sebesar apakah cintamu pada jalan ini? Hanya cinta, bulir-bulir keringat, tangis dan langkah-langkah tegapmu yang akan membuktikannya” (Sari, 2015)