Berani Berhijrah

“Tobat lu, Ty?”

“Subhanallah ukhty..”

“Ciyee hijrah..”

“Kesambet apaan lu?”

Ya, kira-kira begitulah tanggapan teman-teman yang melihat beberapa perubahan dari diri gue.  (kilas balik : Sebenernya gue udah dari TK pake kerudung. Karena orangtua gue masukin gue ke TK dan SD swasta Islam. SMP dan SMA pun gue kalau di sekolah juga pake kerudung. Tapi masih sering buka tutup gitu. Maklum lah, gue masih gak paham apa maksud dari pake kerudung itu sendiri. Tapi pas masuk kuliah, gue udah mengerti kenapa harus berkerudung karena itu memang sudah menjadi kewajiban seorang muslimah yang sudah dewasa. Tapi meskipun begitu, gue selama kuliah juga pake kerudungnya yang biasa aja dan cenderung tidak terlalu menutupi dada dan gue hobby banget pakai baju yang agak ketat dan celana jeans. Nggak sadar body dah kek gajah, pakenya baju ketat-ketat hiks.)  Sebagian dari mereka ada yang heran tetiba gue berubah jadi pake kerudung panjang sama rok. Tapi nggak sedikit juga yang kasih pujian dan juga semangat ke gue biar istiqomah. Well, kalau diatanya gara-gara siapa sih gue mau berubah kayak gini? Ada beberapa yang ngiranya gue berubah jadi lebih muslimah karena “seseorang”. Atau karena ikutan seminar pra-nikah pas akhir tahun 2016 lalu. Sayang sekali, anggapan mereka tersebut semuanya salah. Jadi kenapa gue tetiba berubah jadi lebih muslimah, padahal nggak ada angin nggak ada hujan?

Pertamanya itu gegara sidang skripsi yang tak kunjung jelas hilalnya. Gue pun berdoa dan berdoa agar sidang skripsi gue bisa dilaksanakan seseger mungkin. Gue juga bernazar apabila gue bisa sidang tanggal 11 Oktober, gue bakal : (1) Puasa Senin-Kamis sampai akhir tahun, dan (2) Pakai rok dan kerudung panjang sampai akhir Oktober. Dan alhamdulillah ternyata Allah mengabulkan doa gue, gue sidang tanggal 11. Alhasil gue pun menjalankan nazar gue pakai baju serba panjang dan tertutup. Tapi sebenernya dalam hati gue, gue pengen berpakaian kayak gitu sejak dari lama. Tapi gue masih belum percaya diri dan belum mantep. Nah baru deh pas nazar itu, mantep nggak mantep harus dimantepin. Gue pun  ngomong sama diri gue sendiri, kalau misalnya gue udah kebiasa pake rok dan kerudung panjang, gue bakalan lanjut pakai busana kayak gitu terus bahkan ketika masa nazar gue udah habis.

Tanpa gue sadari, hari demi hari gue laluin dengan pakai baju serba panjang dan kerudung menutup dada yang gak dimodel-model. Lama-lama gue ngerasa kalau pakai pakaian kayak gitu tuh nyaman juga. Gue pun memutuskan untuk tetap memakai rok dan kerudung panjang, bahkan sampai sekarang. Gue tahu kalau pakaian gue juga belum terlalu sempurna. Gue juga masih pakai rok yang model skinnyskirt gitu. Tapi setidaknya gue sudah say goodbye sama celana jeans gue yang sekarang bertengger di lemari rumah. Gue juga udah nggak pernah pakai kerudung paris yang super tipis bin nerawang itu. Gue juga selalu berusaha pakai kerudung yang menutup dada. Pokoknya gue mencoba berubah dari gue yang sebelumnya.

Lambat tapi pasti, gue mencoba merubah diri gue menjadi muslimah yang lebih baik dari sebelumnya. Meskipun gue tahu, gue masih punya banyak sekali kekurangan. Tetapi setidaknya gue udah mau mencoba. Kalau ada yang bilang, kerudung panjang yang terlalu “syar’i” itu agak gimana-gimana (muslimah banget, atau bisa dibilang ekstrimis)  itu sebenernya nggak juga sih. Itu kan emang udah dijelasin di Al-quran kalau wanita yang sudah dewasa wajib menutup auratnya dengan mengulurkan hijab ke dada dan seluruh tubuhnya. Gue berhijab panjang bukan berarti gue udah baik dan sempurna. Tapi gue berusaha untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Kalaupun ada yang bilang “mending jilbabin hati dulu deh, belum siap” yahh sekarang gue tanya balik “memangnya jilbabin hati itu seperti apa ya? Lalu siapa yang menyuruh jilbabin hati? Kalau jilbabin seluruh badan sudah ada ketentuannya lho di Al-Quran. Itu perintah langsung dari Allah. Wajib cuy.”

QS. Al-Ahzab: 59, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”

Terus kalau ada yang bilang, “yang berhijab itu belum tentu baik.” Ya, bener banget. Yang berhijab itu belum tentu baik. Tapi yang berhijab itu sudah pasti mentaati perintah Allah. Hijab itu bukan tolak ukur ketaqwaan seseorang. Tapi dengan hijab, bisa menahan kita dari segala perilaku buruk. Karena kita sadar bahwa ada hijab yang memebentengi diri kita. Singkatnya dan gampangnya tuh gini “Masa iya sih gue berbuat maksiat. Malu lah sama hijab gue.” Gitu guys..

Jadi begitulah cerita singkat gue berhijrah dari yang pake kerudung biasa aja dan pake baju mayan ketat sampe pake kerudung yang panjang menutup dada plus rok. Sekarang ini gue pakai baju panjang dan kerudung menutup dada itu semata-mata karena Allah SWT dan juga untuk mengurangi dosa-dosa Bapak gue. Secara, kalau cewek belum nikah, dosa-dosanya bakal ditanggung bapaknya. Gue nggakmaulah bapak gue nanggung dosa gue. Sedih gue, berasa durhaka. Maka dari itu gue berubah dan lebih menjaga diri juga demi bapak gue.

Well, sepertinya ditulisan ini gue pake banyak istilah mulai dari kerudung-jilbab-hijab. Pokoknya yang gue maksud itu ya sehelai kain yang menutup kepala hingga dada. (dulu jaman gue sekolah bilangnya kerudung/jilbab, kalau jaman sekarang bilangnya hijab. Walaupun gue tau masing-masing istilah beda makna. Tapi lah yaaaa sudah, kita samakan saja maksudnya ya).

Advertisements

One thought on “Berani Berhijrah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s